Rabu, 10 November 2010

Sukarelawan Merapi Tak Diupah, Tak Dikenal..

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Anggota Kopassus dan relawan mengevakuasi jenazah korban letusan Gunung Merapi di Dusun Banjarsari, Desa Glagaharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, DI Yogyakarta, Senin (8/11/2010). Letusan Gunung Merapi yang kembali terjadi 5 November lalu mengakibatkan sedikitnya 81 orang tewas, 66 orang luka-luka terkena semburan awan panas, dan 30.000 warga mengungsi.
Bencana sering mendatangkan paradoks. Di satu sisi penuh tangis pisah keluarga korban, di sisi lain menyatukan para relawan atas nama kemanusiaan. Itu pula yang tampak pada kerja para relawan erupsi Gunung Merapi yang hingga kini belum jelas kapan akan berakhir.Di tengah ancaman erupsi sewaktu-waktu, tim evakuasi jenazah senantiasa bersiap merayapi lereng Merapi. Seperti bermain petak umpet dengan maut. Berbekal handy talky, para relawan bergerak naik, menerobos kawasan rawan bencana, masuk keluar rumah-rumah di dusun yang luluh lantak. Sebagian di antaranya mengorek tumpukan abu vulkanik atau reruntuhan, mencari jenazah.

Begitu mendengar informasi Merapi mengeluarkan awan panas ke arah tim evakuasi, mereka bergegas menyelamatkan diri. Terkadang harus berlari. Padahal, luncuran awan panas lebih cepat daripada mereka. Meski berisiko, evakuasi terus dilakukan, tanpa bayaran dan sepi ucapan terima kasih. ”Apa yang bisa saya tolong akan saya bantu. Yang penting ikhlas menolong sesama,” kata anggota Grup 2 Kopassus Kartosuro, Sersan Dua Dwi Andi Hermawan, Rabu (10/11/2010). Dwi sudah bertugas di lereng Merapi sejak hari pertama letusan. Ia pernah bertugas di Bireuen, Nanggroe Aceh Darussalam, ketika tsunami pada tahun 2004.

”Sebenarnya banyak petunjuk lokasi jenazah, tetapi sulit ditemukan karena tertimbun. Tanah yang digali sangat panas,” ujar Dwi. Tak hanya prajurit TNI, relawan juga berasal dari anggota Taruna Siaga Bencana (Tagana). Mereka sejak awal erupsi berada di ”titik panas”. Tagana Kabupaten Sleman membangun posko-posko pengungsian sebelum letusan kedua menghancurkan posko-posko tersebut.
Mereka pergi ke dusun yang terpapar awan panas, seperti di Dusun Kinahrejo dan Ngrangkah, Umbulharjo, Sleman. Ada di antara mereka yang tewas saat mengevakuasi, seperti Slamet Ngatiran (30). Pria yang baru menikah Juli 2010 ini meninggalkan istri yang tengah hamil 3 bulan.
Hingga kini ada empat anggota Tagana Sleman tewas saat bertugas. Satu di antaranya belum ditemukan. Mereka tewas saat menjaga logistik di posko.

Tak semua relawan berada di ”garis depan” bencana. Ratusan atau bahkan mungkin ribuan relawan tersebar hingga dapur umum. Tugas mereka tak kalah penting, memastikan pasokan logistik lancar.
Salah satunya adalah Muhammad Ibrahim Da Silva (45). Koordinator Tagana Jawa Timur itu bertugas di bagian logistik. Berbagi tugas dengan prajurit Detasemen Perbekalan TNI AD, ia dan teman-teman memasak untuk 13.000 pengungsi di Stadion Maguwoharjo dan sekitarnya.

Menghibur
Keberadaan relawan yang tersebar di banyak posko sungguh diperlukan. Ada relawan yang bernyanyi dan bermain dengan anak-anak pengungsi. Mereka memastikan dunia anak tak terenggut sekalipun di pengungsian yang menyesakkan. Sebagian lagi bekerja di posko-posko kesehatan. Tak hanya mengobati penyakit fisik, tetapi juga psikis. Kini ada ratusan pengungsi yang tertekan secara psikologis. Dua pengungsi bunuh diri karena tak kuat menanggung tekanan bencana. Pengungsi yang menderita stres diperkirakan lebih banyak daripada yang ditemukan dan dirawat. ”Jumlah relawan dan psikolog terbatas sehingga yang ditemukan sedikit,” kata psikolog posko psikologi pengungsian di Stadion Maguwoharjo, Amalia Dewiyanti.

Kerja 24 jam
Menjadi relawan menguras stamina. Misalnya, kerja relawan tim evakuasi hampir 24 jam. Kurang tidur dan kelelahan sering kali merayapi tubuh mereka. Oleh karena itu, menjaga stamina fisik sangat diperlukan. Obat-obatan, masker tambahan, sarung tangan, hingga susu dan minuman suplemen menjadi penting. Para relawan mengaku tidak lupa meminta dukungan doa dari keluarga.
Pasca-letusan pertama ataupun kedua, kerja tim evakuasi belum tuntas. Masih banyak jenazah korban yang belum bisa ditemukan karena sulitnya medan evakuasi. Letnan Kolonel (Inf) Jimmy Ramoz, Komandan Batalyon 21 Grup 2 Kopassus Kartosuro, mengatakan, lokasi evakuasi jenazah korban Merapi di bantaran Sungai Gendol, Kecamatan Cangkringan, Sleman, sulit ditembus. Rata-rata suhu sisa-sisa lahar dan awan panas masih di atas 50 derajat celsius.
Tak sedikit relawan menjadi korban. Tak jarang perlengkapan mereka minim, tanpa sepatu bot, masker, atau kacamata antidebu.
Namun, para relawan bekerja tulus ikhlas. Dalam kesunyian publisitas, mereka berjibaku atas nama kemanusiaan. Bukan demi uang ataupun popularitas.



Kompas: Editor: A. Wisnubrata

Minggu, 07 November 2010

4 Langkah Mudah Agar Anak Selalu Sehat

img
Dok. Thinkstock

Eya Ekasari - wolipop

Jakarta - Menjaga kesehatan si kecil bukanlah hal yang mudah. Namun jangan dulu khawatir, ada empat langkah awal agar anak selalu terlindungi dari berbagai kuman dan penyakit.

Kesehatan anak tentu saja menjadi fokus utama Anda. Sayangnya, Anda tidak bisa memperhatikan seluruh kegiatan dan asupan makanannya setiap saat. Seperti yang dikutip dari sheknows, tips mudah ini bisa menjadi langkah awal Anda untuk melindungi si kecil dari berbagai kuman penyakit yang ada pada lingkungan sekitarnya.

1. Berikan sarapan bernutrisi tinggi
Anda mungkin tidak bisa mengontrol makanan apa saja yang si kecil makan saat ia berada di luar. Namun, Anda bisa memberikannya sarapan sehat agar si kecil tetap mendapatkan gizi dan nutrisi yang baik untuk kesehatan tubuhnya. Anak yang terbiasa memakan sarapan sehat akan lebih berkonsentrasi saat beraktifitas. Tidak hanya itu, sarapan sehat juga membuatnya tidak ingin memakan makanan ringan yang tak sehat.

Jika Anda tidak punya banyak waktu untuk menyiapkan sarapan setiap paginya, pilih saja makan yang cepat untuk disajikan, seperti susu, sereal dan potongan buah atau roti isi telur.

2. Rutin memeriksakan kesehatan
Pastikan anak mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi untuk selalu memeriksakan kesehatannya secara rutin. Jangan lupa untuk memberikannya vaksinasi pada setiap awal tahun. Sebuah vaksinasi flu bisa membantunya menghindari penyakit flu yang mudah sekali menular.

3. Ajak si kecil mengikuti kegiatan olahraga di sekolahnya
Salah satu cara terbaik untuk anak agar tetap sehat adalah dengan selalu berolahraga. Ajak si kecil untuk ikut klub-klub olahraga yang ada di sekolahnya, seperti klub sepakbola, basket atau yang lainnya. Kegiatan ini tidak hanya menjaga kesehatan pada anak, tetapi juga membantu anak meningkatkan kualitas bersosialisasinya.

4. Waktu tidur yang konsisten
Menjaga waktu tidur yang teratur setiap harinya dapat meningkatkan kemungkinan tidur yang berkualitas. Kurangnya tidur tentu akan menyebabkan si kecil mudah marah, sulit berkonsentrasi bahkan obesitas. Jadi mulai sekarang, pastikan waktu tidur yang konsisten untuk si kecil dan jangan lupa ciptakan suasana nyaman saat ia tidur.

Kamis, 04 November 2010

Korban Tewas Merapi Bertambah Lagi Jadi 55 Orang

feb - detikNews



Sleman - Sungguh tragis! Korban tewas akibat letusan Gunung Merapi terus bertambah. Hingga pukul 08.45 WIB, korban di RS Sardjito, Jl Kesehatan, Sleman, bertambah 13 orang menjadi 55.

Pantauan detikcom lansung dari rumah sakit, 14 orang korban tewas ini adalah 8 orang lelaki dewasa, 5 orang  perempuan dewasa dan seorang anak laki-laki.
Menurut petugas forensik, 14 korban tewas yang baru masuk ini, ditemukan disekitar Sungai Gendol, Argomulyo, Cangkringan, Sleman.

"Kami temukan di sekitar Sungai Gendol lagi," ujar petugas kamar forensik di RS Sardjito.

Kondisi 14 jenazah itu dalam keadaaan hitam pekat. Para korban terkena awan panas akibat erupsi Merapi malam hingga Jumat dinihari tadi.

Merapi terus menerus mengeluarkan awan panas tanpa jeda. Selain korban tewas, Merapi juga membuat puluhan orang luka bakar. Korban luka tidak hanya ditemukan di Yogyakarta tapi juga di Klaten, Jawa Tengah.

Hingga kini tim evakuasi masih mencari para korban yang masih berada di dusun-dusun yang terkena awan panas. Kemungkinan korban masih bertambah.

Hujan Abu di Magelang Makin Pekat, Siang Tampak Seperti Malam

Novi Christiastuti Adiputri - detikNews

Suasana Kaliurang
Jakarta - Hujan gerimis disertai pasir masih melanda wilayah Muntilan, Magelang dan sekitarnya. Kondisi ini membuat suasana siang hari terasa seperti malam hari di Magelang.

"Hujan abu masih ekstrem, sekarang masih hujan air rintik-rintik. dari sekitar pukul 13.00 WIB. Kondisi langit gelap, seperti malam hari. Mulai pukul 13.00 WIB siang tadi suasana seperti pukul 17.30 WIB," ujar salah seorang pembaca detikcom, Tedi yang berada di Muntilan, Magelang, Kamis (4/11/2010).

Suasana ini semakin mencekam karena Muntilan mengalami mati lampu sejak siang hari.

Hujan gerimis yang disertai pasir seperti ini telah melanda Magelang sejak semalam. Sejak Merapi meletus pada 26 Oktober lalu, hujan abu paling parah terjadi pada hari ini.

"Hari ini paling banyak, bahkan tadi malam sempat hujan air plus pasir. Abunya lebih kasar seperti butiran pasir," tutur Tedi yang bertempat tinggal di Desa Gunung Pring, Muntilan yang berjarak sekitar 23 km dari Gunung Merapi.

Hal senada juga dituturkan pembaca detikcom lainnya, Eko Pras, melalui fasilitas Info Anda.

"Suasana Magelang bagian selatan gelap, hujan abu plus pasir halus terasa dengan frekuensi yang cukup tinggi. Saat adzan ashar, kelihatan seperti adzan maghrib," tuturnya.

Rabu, 03 November 2010

Awan Petruk Gunung Merapi Fenomena Ajaib


awanpetruk
Foto asap merapi yang mirip kepala Petruk
Kejadian Awan Aneh Mirip Tokoh Wayang Petruk Sungguh Unik Terbentuk Dari Awan Panas Gunung Merapi (Wedhus Gembel). Apakah ini sosok ghaib penunggu Gunung Merapi, Sebuah fenomena aneh muncul sebelum meletusnya Gunung Merapi pada 26 Oktober lalu. Awan di atas Gunung Merapi membentuk gambar mirip kepala Petruk, salah satu tokoh dalam dunia pewayangan.

Peristiwa aneh tersebut berhasil diabadikan Suswanto (43), warga Desa Sudimoro, Pucang Anom, Kecamatan Srumbung, Magelang, Jawa Tengah, dengan kamera miliknya. Awan mirip sosok Petruk itu terlihat pada Selasa 26 Oktober sekira pukul 17.00 WIB.
Suswanto menceritakan, saat itu dirinya secara kebetulan keluar rumah dan memandang ke arah Gunung Merapi. Saat itulah dia melihat gumpalan awan mirip sosok Petruk. “Lalu saya ambil kamera dan memfotonya. Awalnya hanya iseng, tapi kemudian hasil gambarnya mengejutkan,” ujarnya di Magelang, Senin (1/11/2010).

Disebutkan, awan di atas puncak Merapi itu membentuk pola kepala Petruk dengan hidung panjang dan kuncir rambut melengkung ke atas. Sosoknya menghadap ke arah Selatan, yaitu Yogyakarta. Dari depan rumah Suswanto ke puncak Merapi sekira 13 kilometer.
Bagi masyarakat di Lereng Merapi sosok Petruk memiliki mitos dan misteri sendiri. Mereka menyakini Gunung Merapi dikuasai sosok gaib, yaitu Mbah Petruk. Sejumlah warga yang melihat hasil jepretan Suswanto menyakini bahwa gambar tersebut mirip sosok Petruk, sang penunggu Merapi.
Mereka menduga, Petruk memperlihatkan diri sebagai tanda bakal ada bencana besar di Gunung Merapi. Mbah Sihur, (54) warga Desa Gaten, Desa Ketunggeng, Srumbung, menyatakan munculnya awan berbentuk kepala Petruk menyakini sebagai peringatan bagi warga sekitar Merapi agar menyingkir. “Dengan melihat arahnya yang ke selatan sudah terbukti yang parah terkena letusan Merapi adalah Yogya,” ujarnya.

Mbah Sihur menyakini Mbah Petruk bersemayam di dalam kawah Merapi. Kepercayaan tentang Petruk tak lepas dari sejarah peralihan Hindu Majapahit ke Islam Demak. Masyarakat sekitar Merapi menyakini Petruk sebagai sosok sabdo palon lolo gendong yaitu penasihat Raja Majapahit Barawijaya V. Di akhir masa kejayaan Majapahit dan masuknya Demak, Brawijaya V memilih berdiam di Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hal ini dilakukan karena dia menolak masuk Islam.

Maka sabdo palon pun memilih mengikuti jajak sang raja, hanya saja dia tidak ikut ke Gunung Lawu tapi ke Gunung Merapi sebagai tampat tinggalnya. Sebagai peringatan terhadap lawan-lawan politiknya yang tengah berkuasa saat itu, dia mengangkat sumpah bahwa kelak akan menagih janji penguasa negeri tentang amanahnya menyejahterakan rakyat.
Masyarakat Lereng Merapi menyakini bahwa letusan gunung teraktif di Indonesia sejak tanggal 26 Oktober lalu merupakan peringatan bahwa penguasa negeri ini telah lalai menjalankan amanah mensejahterakan rakyat. “Jadi dia marah dan menagih janji penguasa,” tandasnya.  okezone.com.

Para Lelaki Tangguh (Tambang Belerang Kawah Ijen)

Diarsipkan di bawah: TRAVELLING — nikkiputrayana

Ditengah kepulan asap yang menjadi-jadi mereka mencongkel belerang yang telah padat dan dingin tanpa perlindungan apa pun. Seringkali mereka ditelan asap belerang pekat yang kehitaman dan bertahan dari pengaruh racun yang menyesakkan dada dan memerihkan mata hanya dengan bermodal kain lusuh seadanya. Apabila pipa saluran dianggap terlalu panas maka mereka harus sigap untuk menyiramnya dengan air agar cepat menjadi dingin, apabila tidak maka ini dapat memecahkan pipa saluran belerang. Para pencongkel ini berlainan dengan para pembawa beban, mereka tidak membawa beban, mereka hanya bekerja mencongkel dan memuat kedalam keranjang beban. Tidak jauh dari tempat mereka bekerja terdapat kemah berterpal biru seadaanya tempat mereka beristirahat karena biasanya sekitar jam 10 pagi, asap mulai menebal lalu kembali tipis menjelang tengah hari.
Ini bukan Hulk hogan, ini bukan Ade rai, ini juga bukan cerita kuat si Samson. Ini cerita nyata dari kawah Ijen. Kawah dari sebuah kaldera gunung yang setiap saat selalu memuntahkan berkilo – kilo bahkan berton – ton belerang murni dari perut gunung setiap harinya. Dialirkan melalui pipa besar berdiameter 30 cm. Ujung lubang pipa itu dimasukkan kedalam sumur – sumur sumber belerang. Lalu keluar dalam bentuk belerang cair yang sangat panas langsung dari dapur magma kawah, berpijar berwarna biru muda seperti kompor gas kita, lalu disela – selanya meleleh belerang cair berwarna oranye. Tambang belerang didunia yang dilakukan seluruhnya dengan tenaga manusia terbesar di dunia, catat di dunia !

Pekerjaan yang sangat sederhana namun penuh resiko mulai dari saat mereka berangkat bekerja sampai pulang bekerja. Pekerjaan dimulai dari pos paltunding tempat mereka didrop dari truk yang mengantarkan mereka pada jam 3 pagi. Inilah pos pendakian awal karena kendaraan selain sangat sulit untuk menuju puncak juga tidak diperkenankan. Perjalanan sejauh 3 km ini ditempuh sejauh 1 jam perjalanan dengan sudut elevasi rata – rata 60 drajat , inilah yang menguras tenaga para turis amatir. Sampai pada pos timbang pertama yang juga berada disamping pos pengamatan pengairan kawah ijen (lebih dikenal sebagai pos bundar) yang sudah ada sejak jaman belanda atau seusia dengan perkebunan kopi dibawah kaki gunung Ijen.

 Pos ini memantau kegiatan kawah Ijen setiap waktu karena ada kalanya gas beracun keluar. Pekerjaan hari ini dimulai dari sini dimana juga terdapat gubuk istirahat. Dari gubuk ini para pekerja bersiap – siap dengan peralatannya. Ada beberapa pekerja yang meninggalkan peralatannya disini. Dari gubuk sampai di bibir kawah biasanya memakan waktu 1 jam.
Tiba dibibir kawah maka biasanya berbarengan dengan terbitnya matahari. Maka cahaya keemasan mulai menyinari tebing terjal dimana terdapat jalan berliku menuruni kawah sampai ditempat gas belerang keluar, tempat bekerja sepanjang hari. Pekerjaan menuruni jalan kekawah bukan suatu hal yang tidak berbahaya. Jalan ini seringkali hanya berupa batu – batu kecil yang disusun agar menyerupai anak tangga. Namun karena sudah hapal maka kaki mereka seolah telah tahu dimana batu yang goyah berada. Tidak jauh dari tempat mereka bekerja terdapat danau kawah dengan tingkat keasaman tinggi sehingga berwarna indah, hijau jamrud dengan bercak keputihan. Namun mereka tidak akan sempat dan hirau dengan keindahan ini akibat tenggelam dalam beratnya hidup.
Pekerjaan manusia super maka dimulailah dari anak tangga terbawah. Pekerjaan yang benar – benar memaksa kekuatan maksimal manusia. 100 kg per pikulan adalah rekor, rata – rata beban adalah 70 kg. Dibawa mendaki menuju atas jalan lereng berliku sejauh 1 km yang terkadang bersudut elevasi hampir 90 drajat alias tegak lurus. Dijalur terberat inilah manusia diuji, kaki menaiki anak tangga selangkah demi selangkah setiap helaan nafas. Mata mereka hanya tertuju pada batu – batu pijakan akan benar – benar menapak. Seringkali mereka tidak kuat pada anak tangga ke 10 setiap jalur terberatnya. Dipundak mereka beban berderit – derit didalam keranjang bambu sedang batu berderak – derak dipijak beratnya beban.
Oleh karena itu dengan pengaturan sederhana dibuatlah peraturan unik, one for all, all for one, satu untuk semua, semua bahu membahu sesaudara. Pikulan diletakkan ditiap – tiap tikungan terjal kemudian diangkut bergantian, ini dapat menghemat waktu turun naik dan tenaga tentunya. Seringkali para pekerja yang telah tua tidak sesegar pekerja muda. 2 kali angkut setiap harinya adalah pekerjaan maksimal sedang pekerja muda maksimal 4 kali angkut. Oleh karenanya seringkali yang muda membantu mengangkat pada jalur – jalur berat dan pekerja tua melanjutkannya dijalur – jalur yang ringan. Pengaturan sederhana dan unik. Pekerjaan inilah yang paling beresiko, seringkali jalur ini hanya cukup untuk satu kaki melangkah. Apabila anda tidak kuat atau salah menapakkan kaki maka hanya ada 2 pilihan, lemparkan bawaan anda atau anda yang terlempar ke bawah. Pekerja yang mati memang katanya belum ada namun kecelakaan adalah hal yang sering terjadi. Walau belum ada penelitian akan kualitas paru para penambang namun masalah kesehatan yang sering terjadi hanyalah linu – linu pada lutut, biasanya mereka memilih beristirahat keesokan harinya karena bila dilanjutkan maka dapat menjadi dislokasi lutut yang akibatnya mereka akan menganggur lama atau bahkan pensiun. Pundak dan lutut adalah asuransi hidup yang teramat penting bagi mereka.

Sesampainya dibibir kawah maka mereka juga biasa melakukan pengaturan unik. Pekerja meletakkan beberapa keranjang diberbagai tempat. Setelah terkumpul banyak mereka akan memikul secepatnya menuju pos timbang pertama untuk ditimbang. Disini mereka dapat beristirahat sejenak atau memilih kembali secepatnya mengambil keranjang – keranjang lain. Nampaknya jam 10 memang jam istirahat saat asap belerang bertambah pekat sejenak.

Dari pos timbang pertama maka pikulan ini akan dibawa menuju ke Paltunding kembali dimana disini terdapat pos timbang kedua yang akan mengecek kembali berat pikulan. Ini agar para pekerja tidak mengelabui perusahaan pembeli dengan membuang beban dari pos timbang pertama sampai paltunding. Dijalur ini ternyata ada pekerja yang memanfaatkan jauhnya jarak ini dengan membantu membawakan pikulan hanya di jalur pos timbang 1 – paltunding dengan harga angkut 5 ribu per pikulan. Pekerja ini tidak akan naik sampai sejauh setengah jarak ke pos timbang 1 dan biasanya mereka adalah pelari – pelari cepat yang mampu membawa beban sambil berlari.

Pekerjaan melelahkan dan berbahaya ini dilakukan sejak jam 3 pagi sampai jam 3 sore dengan harga perkilo yang hanya 600 rupiah. Sehingga apabila mereka sanggup membawa beban rata – rata 70kg perpikulan dengan 3 pikul yang artinya 3 kali pulang pergi maka mereka hanya mendapat 126ribu perhari. Namun hari kerja mereka rata – rata adalah 2 hari kerja 1 hari libur. Sbagai tambahan pendapatan mereka seringkali menjual souvenir patung cetakan dari belerang murni mereka dengan harga 5ribu perbiji. Juga seringkali mereka bertindak materilistis dengan meminta bayaran 10ribu perpose apabila mereka dipotret utuh ketika bekerja. Memang mungkin bila dihitung kasar pekerjaan marabahaya ini begitu menggiurkan namun kelihatannya ada beberapa potongan lain yang tak terceritakan. Yang membuat mereka tetap saja miskin. Lain kali akan saya coba ungkap.
Para pekerja ini tidak dapat sembarangan menambang karena harus terdaftar pada perusahaan pembeli. Perusahaan ini pula yang terkadang merawat pekerja apabila terjadi kecelakaan kerja. Hasil tambang mereka akhirnya dibawa denga truk menuju Banyuwangi melalui jalan Paltunding – Jambu – Licin melewati jalan yang terjal dan rusak parah terlebih pada musim hujan akibat beratnya beban truk. Hasilnya akan dijual lagi ke pabrik gula sebagai pemutih gula atau ke pabrik obat sebagai campuran obat kulit.

Sungguh suatu cerita perjalan belerang yang benar – benar menguji kekuatan manusia. Manusia yang berkerja seperti budak ekonomi di masa modern saat ini. Inilah gambaran sesungguhnya dari kata – kata Pram, 
“Indonesia adalah negeri budak. Budak diantara bangsa dan budak bagi bangsa – bangsa lain”

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Saya tertarik menyebarluarkan kembali tentang para penambang belerang kawah ijen (sebagai bentuk penghargaan bagi mereka para penambang) begitu melihat tayangan televisi swatas, bagi saya adalah pekerjaan tersebut adalah perkerjaan/perjuangan luar biasa para penambang belerang khususnya di kawah Ijen. Terutama karena berjuang dengan peluh keringat yang sangat memeras fisik, pekerjaan ini memerlukan tenaga & stamina yang lebih, mereka bekerja tidak lain tidak bukan hanya demi sesuap nasi untuk keluarga. Salut